Pages

Tampilkan postingan dengan label Mineralogi Optik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mineralogi Optik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Maret 2015

Tanda Optik (Mineralogi Optik)






Untuk mineral biaxial tanda optik bergantung pada sumbu  X atau Z yang merupakan acute bisectrix.
  • jika X, maka mineral tersebut tanda optiknya -ve
  • jika Z, maka mineral tersebut tanda optiknya +ve 


Jika pada suatu kasus 2V = 90°, mineral tersebut tanda optiknya netral.
Cara lain untuk mengenali tanda optik adalah dengan sudut yang dibentuk antara sumbu optik dibagi dua oleh sumbu  X menjadi sudut  2VX; dan sumbu Z menjadi sudut 2VZ.
Kedua sudut tersebut dapat memiliki beasr antara 0 hingga 180°, Kedua sudut tersebut memiliki hubungan seperti rumus berikut:
2VX + 2VZ = 180°
Dengan cara ini tanda optik dapat ditentukan dengan :
·         Jika 2VZ < 90°, maka tanda optiknya +ve.
·         Jika 2VZ > 90°, maka tanda optiknya -ve.

Struktur Khas Pada Mineral




     Mineral adalah suatu benda padat homogen yang dimana terbentuk dialam secara organik  yang mempunyai komposisi kimia pada batas batas tertentu dan mempunyai atom atom yang tersusun secara teratur. Dalam pendeskripsiannya secara optik antara lain warna absorbs, pleokroisme, belahan, pecahan, ukuran butir, indeks bias dan relief pada pengamatan ortoskop nikol sejajar. Lalu pada pengamatan ortoskop nikol silang yang diamati adalah warna interferensi, bias rangkap, orientasi optic,sudut pemadaman dan kembaran, dalam artikel ini yang di singgung adalah mengenai tentang sifat khas struktur pada mineral, yaitu diantara lain:
1.    Biotite

Struktur : Mata Burung. Biotit dibedakan dari phlogopite dengan warna gelap dan absorpsi kuat. Dari hornblend coklat umum dibedakan dengan sudut pemadaman yang kecildan perbedaan belahan.

2.    Tourmaline 


Struktur : zoning. Scrholite berkembang maksimum dalam granit pegmatite, juga terdapat dalam tourmalinegranite, greisen, dan vein bertemperatur tinggi, berasosiasi dengan cassiterite. Mineral ini menunjukkan absorpsi yang paling kuat.

3.    Struktur spinifex


Kenampakan dimana bentukan nya menyerupai jarum

4.    Struktur mesh 


Kenampakan adanya perubahan mineral dari olivine melalui bidang pecahannya dengan bentuk yang tidak beraturan.

5.    Struktur subofitik 


mineral plagioklas dikelilingi oleh mineral feromagnesian yang juga menunjukkan tekstur poikilitik

6.    Halo’s Structure

7.    Sieve Structure

8.    Embayment Structure.

Struktur pada kuarsa dimana terjadi oksisdasi bagian tepi seperti teluk.

Mikroskop Polarisasi dan Fungsi Bagian - Bagiannya


Mikroskop merupakan alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang berukuran kecil atau mikro, sehingga apabila benda-benda mikro tersebut dilihat menggunakan mikroskop akan terlihat besar. Dalam studi geologi, digunakan alat yang bernama “mikroskop polarisasi”. Mikroskop polarisasi adalah mikroskop yang digunakan dalam pembelajaran spesimen geologi, khususnya pada pengamatan sayatan tipis dari batuan. Jenis mikroskop polarisasi memiliki bentuk yang hampir sama dengan mikroskop pada umumnya, namun fungsinya tidak hanya memperbesar benda-benda mikro dan menggunakan cahaya biasa, pada mikroskop polarisasi cahaya yang digunakan adalah cahaya terpolarisasi. Cahaya terpolarisasi terpusat pada satu arah, sedangkan cahaya biasa bergerak dalam arah gerakan acak. Dengan cahaya terpolarisasi ini kita dapat melihat ciri-ciri atau sifat-sifat dari kristal dan mineral secara jelas, terutama dari segi warna, karena setiap mineral memiliki warna tersendiri. 


FUNGSI-FUNGSI BAGIAN MIKROSKOP POLARISASI

1.      Lensa Okuler berfungsi untuk memperbesar bayangan objek dan sebagai tempat kita mengamati medan pandang.

2.      Tabung berisikan Lubang Kompensator, Analisator, dan Lensa Amici Bertrand
  •  Lubang Kompensator: lubang untuk memasukkan kompensator (keping gips, keping mika, baji kuarsa).·     
  •   Analisator : bagian penting yang terbuat dari polaroid atau prisma nikol. Untuk pengamatan nikol bersilang.   
  • Lensa Amici Bertrand : untuk pengamatan konoskopik, untuk memperbesar gambar interferensi yang terbentuk pada bidang fokus balik pada lensa objektif, dan memfokuskan pada lensa okuler.

3.      Revolver berfungsi untuk memilih/ mengganti lensa objektif yang digunakan.

4.      Lensa Objektif berfungsi untuk menangkap dan memperbesar bayangan sayatan mineral dari meja objek.

5.      Kondensor berfungsi untuk memusatkan cahaya yang datang dari cermin di bawahnya

6.      Diafragma berfungsi untuk mengatur jumlah cahaya yang diteruskan dengan cara mengurangi atau menambah besarnya apertur/bukaan diafragma.

7.      Pengatur Kondensor mengatur pemusatan cahaya pada kondensor.

8.      Cermin berfungi sebagai sumber cahaya, bisa juga menggunakan sumber cahaya elektrik.

9.      Kaki Merupakan tempat tumpuan dari seluruh bagian mikroskop.

10.  Sendi Inklinasi berfungsi untuk mengatur sudut kemiringan mikroskop.

11.  Meja Objek berfungsi sebagai tempat tempat meletakkan objek pada saat pengamatan.

12.  Penjepit preparat berfungsi untuk menjepit preparat saat pengamatan.

13.  Pegangan berfungsi untuk pegangan saat menggunakan atau memindahkan mikroskop.

14.  Sekrup Pengarah Halus berfungsi untuk mengatur kedudukan meja objek dalam skala kecil.

15.  Sekrup Pengarah Kasar berfungsi untuk mengarut kedudukan meja objek dalam skala besar.
76561198192950357